YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
1949
Terusin Yuh...
Lingkar Harapan
Mari Belajar
Minggu, Oktober 09, 2011
Chairil Anwar 1
| Reaksi: |
Selasa, April 27, 2010
MEMELIHARA PENAMPILAN DIRI
Islam memberikan panduan kehidupan dari yang global sampai hal-hal yang sangat pribadi, itulah Islam.
Allah telah memilihkan buat nabi-nabi-Nya sunnah-sunnah dan menitahkan kita buat mengikuti mereka dalam hal-hal tersebut yang dijadikan-Nya sebagai syiar atau perlambang dan sebagai ciri khas, untuk mengenal para pengikut masing-masing dan membedakan mereka dari golongan lain. Ketentuan-ketentuan ini dinamakan sunnah-sunnah fithrah.
Jika kita mengungkap masalah penampilan diri secara fithrah semua orang pasti ingin tampil baik, oke dan meyakinkan dihadapan orang lain, yang terkadang dia sendiri tidak memperdulikan, membiarkan atau bahkan melupakan isi dari dirinya yang sebenarnya. Makanya tidak sedikit orang yang tertipu dengan penampilan seseorang.
Mungkin yang akan penulis bahas disini adalah penampilan diri yang tidak dihubungkan dengan dalamnya tetapi penampilan diri yang ada kaitannya dengan sunnah rasul dan kewibawaan seseorang.
Nabi bersabda dalam haditsnya: "Sesungguhnya Allah itu indah dan sangat mencintai keindahan".
Tentang masalah penampilan diri ini Nabi saw. bersabda: "Lima perkara berupa fithrah, yaitu memotong bulu kemaluan, khitan(disunat), memendekkan kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku".(HR. Jamaah)
Dalam hadits ini dijelaskan ada lima hal untuk menjaga penampilan diri, yaitu:
1. Memotong bulu kemaluan
Yang dimaksud dengan memotong bulu kemaluan adalah jika bulu kemaluan seseorang sudah panjang maka hendaklah dia memendekkannya apakah dengan cara digunting atau dipotong, karena dengan cara dipendekkan diyakini akan menambah gairah seksual di saat berjima.
2. Khitan(sunat)
Khitan yaitu memotong kulit yang menutupi ujung kelamin untuk menjaga agar di sana agar tidak terkumpul kotoran, juga agar dapat menahan kencing dan menambah kenikmatan dalam bersenggama. Khitan ini hanya diperintahkan kepada laki-laki saja sedangkan hadits-hadits yang
memerintahkan wanita untuk dikhitan semuanya dhaif(lemah).
3. Memendekkan kumis
Yang dimaksud dengan memendekkan kumis disini bukan berarti kita diperintahkan supaya mengerok kumis hingga habis, karena hal itu justru malah mengurangi kejantanan seseorang. Oleh karena itu kumis harus dibiarkan tumbuh tapi kita jangan lupa harus memelihara dan merapikannya. Rasulullah bersabda:"Barangsiapa yang tidak memotong/memendekkan kumisnya, tidaklah termasuk golongan kami".(HR. Ahmad, Nasa'I, dan Turmudzi)
4. Mencabut bulu ketiak
Mencabut bulu ketiak dianjurkan dalam Islam karena hal itu sangat baik sekali bagi kebersihan dan kesehatan tubuh kita karena jika dibiarkan bulu ketiak memanjang maka akan dijadikan sarang oleh bakteri yang menyebabkan bau badan.
5. Memotong kuku
Memotong kuku termasuk sunnah rasul karena bila kuku dibiarkan memanjang akan mengundang kuman-kuman penyakit untuk bersarang di sana, apalagi bila kukunya dibiarkan sampai panjang dan hitam itu akan mempercepat penularan penyakit. Islam sudah mengatur bagaimana cara memotong kuku yang baik yang biasa dilakukan rasulullah sebagaimana yang
ditulis oleh Jalaluddin.
Malaibari dalam bukunya "Fathul Mu'in" bahwa tatacara memotong kuku yang baik menurut sunnah rasul adalah dimulai dari ibu jari tangan sebelah kanan lalu ibu jari tangan sebelah kiri. Kemudian dilanjutkan dengan dengan kelingking tangan kanan sampai telunjuk, selanjutnya telunjuk tangan kiri sampai tamat kelingking kiri. Begitu juga halnya dengan kuku yang ada di kaki kita seperti itu.
Semua yang lima itu perlu kita ketahui sunnat dilakukan tiap minggu demi menjaga kebersihan dan penampilan diri. Sedangkan batas waktu toleransinya untuk yang lima itu adalah 40 hari. Sebagaimana hadits riwayat Anas r.a.:
"Kami diberi tempo oleh Nabi saw. dalam memotong kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, menggunting bulu kemaluan agar tidak dibiarkan lebih dari 40 malam".(HR. Ahmad, Abu Dawud dan lain-lain)”
Kemudian muncul pertanyaan bagaimana dengan memelihara jenggot?
Memelihara jenggot merupakan anjuran karena dengan berjenggot yang indah dan rapi seseorang tampak berwibawa. Disamping itu jenggot yang lebat menunjukkan kejantanan atau kelaki-lakian yang sempurna dan matang menurut Sayyid Sabiq.
Nabi saw.bersabda:"Berbedalah kamu dengan orang-orang musyrik; lebatkan jenggot dan pendekkan kumis".(HR. Mutafaq 'Alaih)
Sebagian ahli fiqih menganggap perintah ini sebagai perintah wajib, dan berdasarkan itu mereka mengharamkan mencukur jenggot. Setelah 40 hari jenggot akan tumbuh dengan lebat.
Sedangkan dalam masalah memanjangkan rambut kemudian meminyaki dan menyisirnya rasulullah tidak melarang. Berdasarkan sebuah hadits yang yang diterima dari 'Atha bin Yassar r.a. katanya: "Seorang laki-laki yang berambut dan berjenggot kusut datang menemui Rasulullah saw. Rasulullah pun memberi isyarat kepadanya, seolah-olah menyuruhnya membereskan rambut dan jenggotnya. Laki-laki itu pergi melakukannya, kemudian kembali. Maka sabda
Rasulullah saw. "Nah, tidakkah ini lebih baik, daripada seseorang datang dengan kepala kusut tak ubah seperti syaitan".(HR. Malik)
Diterima pula dari Abu Qatadah r.a. :"Bahwa ia mempunyai rambut lebat terurai sampai ke bahu, maka ditanyakannya hal itu kepada Nabi saw. Nabi pun menyuruh agar membereskan dan menyisirnya saban hari".(HR . Nasa'I)
Berdasarkan hal ini maka kadang-kadang Abu Qotadah meminyaki rambutnya dua kali sehari.
Sedangkan bila seseorang mencukur rambutnya itu di perbolehkan,sebagaimana hadits dari Ibnu Umar r.a., bahwa Nabi saw. bersabda: "Cukurlah semuanya atau biarkan semuanya!"(HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Nasa'I ).
Adapun mencukur sebagian dan meninggalkan sebagian, maka hukumnya makruh berdasarkan hadits Nafi dari Ibnu Umar: "Rasulullah saw. melarang qaza'.
Lalu ditanyakan kepada Nafi' :"Apa yang dimaksud dengan qaza'?" Ujarnya:"Mencukur sebagian kepala anak, dan meninggalkan sebagiannya lagi".(HR. Mutafaq 'Alaih), padahal ada anak-anak muda yang melakukannya sebagai 'model' abad milenium.
Dikutip dari : Pesantren AlQuran & Teknologi DURIYAT MULIA, Bandung Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Semoga bermanfaat
| Reaksi: |
Senin, Februari 15, 2010
Kisah tiga orang penderita cacat
(Shahih Muslim No. 2496 Jilid IV)
Nah...makanya bagi anda yang kelebihan harta. Ingat, harta anda darimana? masih ingatkah engaku dahulu seperti ketia orang itu? Ayo mari kita hidupkan kembali arti penting saling memberi tanpa mengharap yang lain darinya.
(95) Ibnu Sabil : orang yang melakukan perjalanan jauh dalam rangka mencari keridhaan Allah
| Reaksi: |
Sabtu, Februari 13, 2010
Valentine’s dan Budaya Global
Hari Valentine’s memang kerap bikin heboh remaja (bener ga Sob??). Gimana nggak heboh, di hari itu, semua orang—khususnya remaja—merasa ‘diwajibkan’ untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap orang-orang yang dikasihinya (apa ga mantap tuh….). Pada hari itu semua orang di seluruh dunia merasa terpanggil untuk menumpahkan kasih sayangnya (air kali ditumpahin hehehe J). Meski sebetulnya yang terjadi kemudian adalah ajang baku syahwat yang sangat liar. Nah, itu fakta dari tahun ke tahun. Budaya bejat yang seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan remaja itu terus berlangsung sampai hari ini. Dan bukan tak mungkin akan menjasad dalam kehidupan kita bila tidak segera diubah (Noh loh….kamu ikutan ga tuh Sob)
Valentine’s adalah pesta remaja sedunia (Sedunia? Emang ini dunia saiapa y? hehe). Yap, karena yang melakukan bukan cuma kamu dan teman-teman kamu di sini, tapi pesta itu sudah menjadi hajatan global (waduh pasti banyak makanan y lo hajatan…). Artinya, hajatan resmi sedunia. Menjelang tanggal 14 Februari semua orang di seluruh dunia dibikin sibuk—khususnya remaja. Segala perlengkapan pesta mulai disiapkan; balon, pita warna-warni, kostum spesial, minyak wangi dan asesoris lainnya, juga nggak ketinggalan kado istimewa buat sang kekasih pujaan hati. Dan kamu pun pasti udah paham bahwa pelaksanaan pesta “Kasih Sayang” itu akan berubah menjadi ajang gaul yang liar dan bebas nian. Gimana nggak bebas, cowok-cewek gabung jadi satu, bahkan bukan tak mungkin terjadi baku syahwat. Karena justru hal itulah yang sebenarnya menjadi tujuan mulianya. Wow, Asyik tuh bagi pelaku maksiatnya!!!
Sekedar tahu saja, sejatinya pesta itu bukan berasal dari ajaran Islam Sob. (INGET Son NON MUSLIM). Tapi pesta itu awalnya adalah bagian dari ritual para penyembah berhala di Yunani, tapi kemudian pada perkembangan berikutnya pesta ini ‘dimodifikasi’ oleh para petinggi Kristen untuk mengenang kematian Saint Valentine yang dipenggal penguasa Roma. Jadi memang nggak ada dalam kamus ajaran Islam pesta tersebut (untuk mengingat kembali, kamu bisa buka Studia edisi 003/Tahun I). (Tuh kasih referensinya deh kalo ga percaya, baik kan guwe!!)
Nah, pembahasan soal Valentine kali ini akan kita fokuskan pada pengaruh budaya global. Tepatnya ekspansi budaya global. Ini perlu kamu ketahui, karena pesta Valentine adalah bagian dari upaya globalisasi gaya hidup. Globalisasi adalah upaya orang-orang Barat—yakni musuh-musuh Islam—untuk menyamakan persepsi yang ada dalam benak mereka dengan orang-orang lain di seluruh dunia. Tapi celakanya, persepsi yang diemban oleh mereka kebanyakan adalah persepsi-persepsi yang berbahaya (Musti wasapada Sob!!). Yang pada gilirannya nanti mereka bisa menguasai dan mengendalikan orang-orang di belahan dunia lain untuk tunduk dan patuh dengan apa yang mereka inginkan. Walhasil, globalisasi adalah senjata Barat dan Amerika yang cukup berbahaya dan sangat mengancam kehidupan kita. (Hidupmu mau Aku Ancam??? “kata orang barat)
Coba kamu perhatiin deh Sob, sekarang orang Indonesia pun udah merasa bangga bila makanan, hiburan, maupun dandanannya adalah yang juga disukai dan dipakai oleh orang-orang Barat dan Amerika. Jujur saja, masih banyak teman remaja yang geregetan pengen makan di resto Amerika ketimbang ‘nongkrong’ di warung yang menjajakan makanan pribumi. So, mungkin kamu juga merasa besar kepala bila tanganmu menenteng jajanan McDonald’s atawa minuman Coca-Cola. Iya kan? Ngaku aja deh! (Idih, nuduh neh…… padahal kan bener!! Hehe)
John Naisbitt dan Patricia Aburdene yang mengarang buku Megatrends 2000 mengungkapkan bahwa dunia ketiga akan dibanjiri produk-produk dunia maju. So, sekarang udah kejadian, tuh. Food, Fun, dan Fashion di seluruh dunia hampir seragam. Seolah produk-produk tersebut sudah menjadi daftar belanjaan rutin yang wajib dipenuhi. Semua orang di seluruh dunia makan makanan yang sama: humberger, hotdog, pizza, spaghetti, dan yang lainnya (wuidihhhh makanan apa tuh ya?). Anak-anak di seluruh dunia bicara dan bercerita tentang hiburan yang sama, dari mulai film, video game, musik, sampai nyanyian. Kamu pasti udah biasa nonton film-film keluaran Hollywood. Produk Hollywood sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Lalu siapa sih yang nggak gaul dengan mesin fantasi keluaran Sony Corp? Yang udah nyetel dengan mesin fantasi itu pasti kenal banget dengan yang namanya PlayStation. Apalagi ada ‘sekuel’-nya—PS 3. Dijamin kagak bete lagi tuh hidup…… (hemmm yang ini juga kudu diwaspadai efeknya Sob)
Kalo soal musik dan nyanyian? Wow, jangan ditanya deh, dari mulai penyanyi sampai grup musiknya anak-anak ndeso di sini juga udah hapal betul (bener gat uh…). Karena televisi dan radio getol memutar lagu-lagu ‘bule’ itu. Walhasil, nyanyian dan musik menjadi seragam di seluruh dunia. Begitupun dengan urusan mode, semua orang di dunia ingin berdandan dengan model pakaian yang sama dengan yang udah dipakai supermodel dunia yang dipamerkan di rumah mode kelas dunia pula. Pokoknya, seragam! (hari senin upacara soalnya,…. Ups bukan Sob salah)
Nggak terkecuali masalah budaya dan gaya hidup lainnya—termasuk pesta valentine ini. Akibatnya, semua anak remaja di seluruh dunia—termasuk di sini—merasa perlu untuk merayakannya. Bener kan? (hayo ngaku kamu…..!!)
Ini namanya globalisasi, Sob. Malah bila kita mau rajin menelusuri, ternyata persoalan itu hanya bagian kecil dari rencana licik Barat dan Amerika untuk menguasi dunia—khususnya dunia Islam. Karena yang lebih berbahaya dari itu masih banyak. Contohnya? Wah, kamu juga kudu gaul tampaknya neh Sob. Ya, sistem kehidupan yang selama ini mengatur kehidupan kita itu nggak lepas dari rencana jahat mereka dalam menguasi dunia Islam. Lihat saja, semua negeri Islam sepakat mengamalkan dan bahkan membela matian-matian sistem demokrasi—produk hukum mereka yang rusak itu. Nggak terkecuali di negeri ini. Nah, itu juga adalah bagian dari globalisasi, Sob. Bahaya memang! (Pusing tuh kalo dipikirin…..)
Sebuah Tantangan
Sekali lagi, nggak usah heran bila kita dan adik-adik kita bicara tentang film yang sama. Meski nggak seluruh film buatan Hollywood memang—bisa juga dari Jepang, Inggris, Jerman, dan bisa jadi Indonesia kalo mampu memproduksi film untuk konsumsi dunia (kapan ya Indonesia bisa memproduksi film yang mendidik?? Sinetronnnnnn mulu yang dibikin, kalo ga Pocong, Kuntilanak. Ada kali nanti kuntil bapak dan anak heheheh) .
Tapi perlu diingat, meski demikian biasanya Amerika akan menerapkan standardisasi tertentu untuk membatasi gerak dunia ketiga agar jangan sampai mengalahkan dominasi mereka.
Namun, harus diakui bahwa dampak dari globalisasi itu bukan berarti salah semua. Masih ada sisi baik—meski sedikit—dari globalisasi ini. Contohnya perkembangan iptek yang kian pesat. Baik teknologi informasi: seperti internet dan komputer, juga teknologi militer, kimia, biologi, fisika, dan teknologi ramah lingkungan lainnya (Berarti ga boleh su’udzon Sob!!).
Dipikir-pikir, emang Ibarat ‘pisau’ bermata dua. Artinya bisa kita pakai untuk menikam, tapi juga bisa menikam kita. Weleh weleh, ribet juga ya? Di sinilah perlunya kita membentengi diri dengan ‘ilmu’ yang cukup. Perkembangan ini kan bisa baik tapi sekaligus bisa jahat. Maka sikap bijaksana itu wajib kita miliki. Supaya nggak keburu nafsu menghukumi yang halal menjadi haram—atau sebaliknya. Apalagi kalo sampai terjebak menjadi pengikut budaya global yang nggak bener. Itu sih, kebangetan dah. Pendek kata, harus bertanggung jawab. Yang benar kita ambil, dan yang salah kita buang. Inilah tantangannya bagi kita. Tentu, tantangan yang harus dihadapi dengan bijaksana dan butuh penyelesaian jitu. Iya nggak Sob?
Malah, kayaknya sekarang kita harus lebih cerdas lagi dalam menyikapinya. Bukan apa-apa, ekspansi bukan global ini makin berbahaya karena ditunjang dengan teknologi canggih. Jaringan internet misalnya Facebook, Twitter, YM, Friendster, sudah merupakan kebutuhan tersendiri. Dengan kata lain, bukan fasilitas mewah. Berarti setiap orang hampir bisa dipastikan mampu mengakses dengan mudah (bener ga? Hape 300 ribu aja bias internetan ko). Wah, padahal nggak semua informasi yang ditampilkan jaringan ini mendidik. Jadi, jaringan maya ini ternyata perlu diperhitungkan juga, Sob. Kenapa? Ya, itu tadi, karena di jaringan ini akses informasi nyaris tanpa batas dan sulit dibendung. (hati – hati tuh bagi kaum hawa, jangan mudah percaya sama orang yang baru kenal di dunia maya buat ketemuan, salah – salah kamu jadi korban Non)
Sob, budaya-budaya yang salah inilah yang sebenarnya sering ‘dijual’ oleh Barat dan Amerika kepada penghuni dunia ketiga (baca: dunia Islam). Dan celakanya, justru budaya ini yang laku. Lihat aja, remaja di negeri ini gayanya udah kayak remaja Paris or Amrik aja (terserah lu guwe gitu… semrawut lah pokoke). Mulai dari makanan, hiburan, dandanan, sampai gaya hidup. Udah gitu merasa bangga lagi. Malu-maluin aja! (eits jangan tersinggung y…)
Tetap Waspada
Nggak ada jalan lain kecuali waspada memang. Waspada dalam pengertian tidak mudah tergoda dengan budaya baru yang bukan berasal dari Islam. Kamu harus pilih-pilih dulu. Jangan langsung caplok aja. Pokoknya pandai memilih dan memilah. Dan perlu dingat, patokan yang kamu pakai untuk menilai budaya tersebut adalah ajaran Islam. Kalo menurut Islam haram, maka kamu jangan maksa mengambil atau melakukan sesuatu itu. Dan sebaliknya bila menurut Islam itu boleh atau halal, kamu nggak dilarang untuk mengambil atau mengamalkannya (nah baca sekali lagi dari WASPADA, musti diinget tuh katanya).
Well (boso opo kuwi mas?!!), jadi kamu dituntut untuk bisa bertanggung jawab. Dan itu cuma bisa dilakukan bila kamu udah paham tentang Islam. Maka, kalo belum paham soal Islam, jangan nekat melabrak. Harus tahu diri, berati kamu kudu belajar dulu tentang ajaran dan nilai-nilai Islam. Tapi memang harus diakui juga sih, penjagaan diri itu nggak cukup. Harus didukung oleh pengawasan masyarakat dan kekuasaan sebuah negara. Tujuannya? Supaya lebih joss!
Selain kita kudu waspada, kita juga nggak boleh menjadikan musuh-musuh Islam sebagai teladan atau teman kita. Apalagi kalo kita mau aja ngikutin gaya hidup mereka. Hati-hati, jangan sampai deh! Allah Swt. berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali ‘Imrân [3]: 118).
Waduh, ngeri juga kan sob? Makanya nggak usahlah kamu bergaya hidup seperti kaum lain. Jangan sampai pengaruh jelek globalisasi menjadikan kamu lepas dari Islam. Karena ketika kamu terpengaruh dan kemudian ikut bergaya hidup seperti musuh-musuh Islam itu, berarti kamu telah menjadi pengikutnya (baca: temannya). Ih, syerem banget, atuuuuuuuuuuuut!
Makanya kamu nggak boleh latah ikut-ikutan budaya yang bukan berasal dari Islam. Nggak bener dan memang nggak baik. Bahkan kewajiban kamu adalah mengamalkan (ajaran) Islam, bukan ajaran kaum atau peradaban lain (bukan begitu Sob!!) . Karena tentu saja, dengan adanya globalisasi ini musuh-musuh Islam sengaja membuat jalan agar kaum muslimin—khususnya remaja—untuk mengikuti kehendak mereka. Ini jelas sangat berbahaya. Karena bila kita masuk perangkap mereka, alamat hidup kita ancur-ancuran, Brur. Nah, termasuk dalam urusan Valentine’s ini.
Karena pesta itu adalah bagian dari globalisasi budaya mereka. Ya, itulah gaya hidup mereka yang sengaja disusupkan ke benak kaum muslimin—khususnya remaja. Allah Swt menggambarkan bagaimana kebencian musuh-musuh Islam—yakni kaum Yahudi dan Nasrani—dalam menghancurkan ummat Islam. Firman Allah Swt.:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. al-Baqarah [2]: 120)
Dengan demikian, kita wajib waspada, jangan sampai terjerumus mengikuti budaya dan gaya hidup selain Islam. Kita bisa menang kawan. Karena Allah sudah menjanjikan kemenangan itu. Tentu jika kita mau berupaya membela Islam. Firman Allah Swt.
“…dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. an-Nisâ’ [4]: 141)
Sekali lagi Sob, pesta Valentine’s adalah bagian dari ekspansi budaya global. Dan sayangnya, pesta itu merupakan rencana jahat mereka untuk menghancurkan kepribadian Islam kita. Jangan salah, lho. Di balik ‘senyum manisnya’ tersimpan kebusukan. Hati-hati.
| Reaksi: |
Senin, Februari 08, 2010
Hadits 1
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasullulah bersabda : " Apabila ada lalat jatuh kedalam minuman seseorang di antara kamu, maka benamkanlah lalat itu lalu keluarkan, sebab pada salah satu sayapnya ada penyakit dan pada sayap lainnya ada penawarnya." ( Bukhari wa Abu Dawud menambahkan " Dan hendaknya ia waspada dengan sayap yang ada penyakitnya")
"Bulughul Maram Kitab Taharah"
| Reaksi: |
Selasa, Februari 02, 2010
Story "Sabar Menunggu Masa Khitbah"
Aku menunggumu...
“Afwan Ukhti, semoga ini tidak melukai Anti dan keluarga Anti . Ana pikir sudah saatnya Ana memberi keputusan tentang proses kita. Ya…seperti yang Anti ketahui selama ini Ana telah berusaha melobi orang tua dengan beragam cara mulai dari memahamkan konsep nikah “versi” kita, memperkenalkan Anti pada mereka hingga melibatkan orang yang paling Ayah percaya untuk membujuk Ayah agar mengijinkan Ana untuk menikahi Anti .”
“Namun hingga sekarang nggak ada tanda-tanda mereka akan melunak, jadi menurut Ana…sebaiknya Ana mundur saja dari proses ini!” Dana diam sejenak untuk menunggu respon dari seberang, tapi hingga beberapa detik tidak ada tanggapan. “Perlu Anti ketahui bahwa orang tua Ana sebenarnya sudah tidak keberatan dengan Anti hanya saja timing (waktu)nya yang belum tepat. Ayah Ana khawatir Ana tidak mampu menafkahi Anti jika belum bekerja. Apalagi Anti juga masih kuliah. Jadi Ana rasa, ahsan kita nggak ada komitmen dulu hingga keadaannya membaik! Anti nggak keberatan
“Keberatan…? Alhamdulillah nggak! Namun kalau Ana boleh kasih saran, apa tidak lebih baik kalau kita terus melobi sampai tetap proses saja. Soalnya kan kita sudah mantap satu sama lain, nggak enak kalau mundur di saat seperti ini. Apalagi permasalahannya sudah mulai mengerucut ke arah ma’isyah saja.”
“Anta pasti masih ingat gimana sulitnya start awal kita membujuk orang tua, rasanya semua kriteria kita ditolak. Segala keterbatasan kita jadi aib yang sangat besar, pokoknya semua jalan sepertinya sudah tertutup rapat. Namun kenyataannya hanya dalam dua minggu kita bisa menghilangkan semua syarat menjadi satu syarat saja: PEKERJAAN!”
Dini, gadis tegar itu akhirnya bicara juga. “Akhi…kita hanya tinggal selangkah, tetaplah berikhtiar dan jangan putus asa. Bukankah Allah Maha membolak-balikkan hati?”
“Benar, Ana paham soal itu, Ana memang akan tetap melobi orang tua Ana, akan tetapi kalau kita terikat, Ana khawatir menghalangi Anti proses dengan ikhwan lain yang lebih selevel dari Ana. Lagipula Ana khawatir tidak bisa menjaga hati.”
“Takut menghalangi Ana untuk proses dengan ikhwan lain? Itu kan urusan Allah bukan urusan Anta! Kewajiban Anta sekarang adalah berjuang mempertahankan sesuatu yang Anta sudah mantap dengannya. Hasil istikharah itu nggak mungkin salah. Tinggal bagaimana cara kita mengaplikasikannya saja.” Hening sejenak…
“Ya…tapi kalau memang Akhi sudah merasa syak terhadap Ana dan mantap untuk mundur, Alhamdulillah. Insyaallah Ana akan dukung sepenuhnya.
“Nggak!” reflek Dana berteriak.“Astaghirullahaladhim, afwan maksud Ana, Ana sudah tidak ada syak pada Anti , kami sangat menyukai Anti dan keluarga Anti . Selain itu Ana juga takut perasaan ini semakin dalam, Ana ini hanya hamba yang dhaif yang masih kesulitan mengekang hawa nafsu.”
Dana berhenti lagi, dadanya terasa sesak, air matanya mengalir semakin deras. Jauh di dalam hatinya, sesungguhnya ia merasa malu pada Allah atas kelalaiannya. Jatuh cinta!
“Halo…!!” Dini merasa Dana diam terlalu lama. Dia tidak tahu kalau pemuda itu sedang menangis. Tapi dia mengerti apa yang sedang terjadi padanya. “Ya udah…, kalau begitu sekarang kita sepakat untuk membatalkan proses ini!! Setelah ini insyaallah kita tidak akan lagi berhubungan kecuali untuk keperluan syari yang sangat darurat, iya
Dini sengaja memberi jeda agar Dana bicara, tapi ikhwan itu memilih terus dian “Akhi…kita tetap baik ya! Silaturahmi dengan keluarga harus tetap dijaga, jangan suuzhzhon pada ayah dan bunda karena bisa jadi keputusan mereka adalah salah satu jalan Allah untuk menguji kita.” Dini berhenti lagi tapi Dana masih enggan berkomentar.
“La Tahzan, ya Akhi…, Insyaallah kalau kita niatkan semua demi keridhaan Allah, maka Dia akan mencatat bagi kita pahala yang besar. Afwan selama proses taaruf ini…Ana, temen-teman dan keluarga Ana banyak melakukan kekhilafan. Ana mewakili mereka dan diri Ana sendiri untuk memohon maaf pada Anta. Bersabarlah karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar…” Samar, Dini mendengar isak tangis di seberang. Dia nyaris tidak percaya…
“Semoga ini bisa menjadi mahar cinta kita pada Allah dan semoga Akhi mendapat gAnti yang lebih baik…Amin.” Suara isak tangis makin terdengar jelas.
“Akhi kalu sudah nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, tafadhal diakhiri!” tidak ada tanggapan.
“Halo…!!? Ya udah, kalau gitu biar Ana yang tutup teleponnya, ya…?” Sepi. “Assalamualaikum!” Klik.
Percakapan di antara mereka berakhir, tapi Dana baru menyadarinya. Dia segera bergegas wudhu dan shalat. Jujur, sebenarnya dia sudah sangat mantap dengan mantan calon istrinya itu…Namun dia tidak yakin dapat membahagiakan akhwat itu kalau dirinya belum bisa menafkahi dengan layak.
Padahal dini dan keluarganya tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka sangat welcome padanya. Ah…, mungkin ini sudah takdirnya. Mungkin Allah melihat akhwat itu terlalu baik untuk dirinya. Mungkin akhwat sekaliber dia, mendapatkan ikhwan yang jauh lebih baik dari dirinya. Dia benar-benar merasa tidak level!.
“Ya…, ikhwan lemah sepertiku, mana mungkin mendapatkan seorang Dini. Populer tapi rendah hati, tegar, bijaksana, wara’, zuhud, qanita, qanaah… Pokoknya semua sifat baik ada padanya. Sedangkan aku, semoga aku nggak menyakiti akhwat lain setelah ini.
Astaghfirullahalazim…, apa yang telah kusombongkan selama ini? Sudah ikut mulazamah bertahun-tahun tapi masih belum berani mengamalkan ilmu yang kudapat sedikit pun. Katanya percaya bahwa orang yang menikah pasti akan dijamin rezekinya oleh Allah, ternyata aku nggak lebih hanya seorang ikhwan yang pengecut.”
Dana tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri, dia benar-benar merasa tak berarti. “Dulu…, aku pernah begitu khusyu’ berdoa pada Allah agar dipertemukan dengan akhwat shalihah yang nggak banyak permintaan seperti dia. Sekarang ketika sudah dapat malah kusia-siakan. Kini aku sadar bahwa Allah selalu mengabulkan permohonan hamba-Nya. Manusia lah yang selalu kufur pada Rabbnya.
Di tempat yang berbeda, Dini menjalani hari-harinya dengan penuh semangat. Dia tetap ceria seperti biasanya. Ya…, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Kecewa? Jelas ada, karena Dini juga hanya manusia biasa. Namun dia bisa mengemas kekecewaannya dengan manis, membuat kesedihannya menjadi sesuatu yang lumrah dari proses kehidupan.
Dia percaya bahwa hatinya tidak mungkin berbohong dan janji Allah pasti terjadi. Maka sesulit apapun kondisi yang dihadapinya saat itu, dia mencoba untuk tetap tersenyum. Jujur, aku bangga padanya. “Aku sudah mantap dengannya, Kak. Aku yakin dialah jodohku. Aku akan terus menunggunya…”
Sepekan kemudian, Dana menitipakan biodata ikhwan lain yang merupakan teman dekatnya untuk diberikan pada Dini. Menurutnya ikhwan itu bisa membahagiakan Dini karena sudah matang dan punya pekerjaan tetap. Jelas, aku tahu bahwa pendapatnya keliru.
Dini bukan mengharap ikhwan yang matang dan mapan. Dia hanya mengikuti kata hatinya saja. Diniku tidak akan bahagia hanya dengan harta dan tahta. Namun, tak urung diterimanya juga biodata itu. Dan bisa ditebak, bagaimAna reaksi Dini saat kuberikan empat lembar kertas berukuran A4 itu. Dini menggeleng pasti. “Anti coba istikharahkan dulu. Barangkali semuanya bisa berubah…” bujukku, “Jazakumullah khoir, tapi… Afwan tolong jangan paksa Ana, Kak!”
Ikhwah fillah, mungkin sebagian Anda menganggap Dana sebagaimana penilaian Dana terhadap dirinya sendiri. Pengecut, jahil, dan sifat-sifat buruk lainnya. Tapi bagi saya, Dana tidaklah seburuk itu. Justru sebaliknya, Dana dalam pandangan saya adalah ikhwan yang hanif.
Dia berani mengambil resiko dengan mundur dari proses dan memilih untuk bersabar melawan nafsunya. Padahal kalau dia mau, dengan sikap Dini yang penurut, dia bisa saja minta untuk tetap meneruskan hubungan dengan gadis pilihannya itu. Namun dia tahu bahwa diatas segalanya, Allah-lah yang patut untuk lebih dicintai.
Dana yakin bahwa jodoh adalah kekuasaan Allah dan dia telah menetapkannya 50 ribu tahun sebelum semesta ada. Dia tahu kalau jodoh pasti akan ketemu lagi, bagaimanapun caranya. Mungkin Dini tidak akan pernah tahu kalau biodata yang kusodorkan kemarin adalah kiriman Dana.
Mungkin Dana juga tidak akan pernah tahu kalau ternyata Dini akan terus menunggunya. Dan mereka juga tidak boleh tahu bahwa diam-diam aku selalu mendoakan untuk kebaikan mereka. Entah bagaimana ending kisah ini nanti nya, yang pasti aku selalu berharap agar masing-masing dari mereka mendapatkan ganti yang lebih baik. Segera…
Untuk semua ikhwah yang sedang menunggu, Sabar ya…
| Reaksi: |